Sunday, March 2, 2008

pelajaran dari pohon apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon
apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu
setiap hari. Ia senang memanjatnya
hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran di keteduhan
rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu
sangat mencintai pohon apel itu.
Demikian pula pohon apel sangat
mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu
kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu
setiap harinya. Suatu hari ia
mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak
sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku," pinta pohon apel itu. "Aku
bukan anak kecil yang bermain-main
dengan pohon lagi," jawab anak lelaki
itu. "Aku ingin sekali memiliki
mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya." Pohon apel itu
menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya
uang... tetapi kau boleh mengambil
semua buah apelku dan menjualnya. Kau
bisa mendapatkan uang untuk membeli
mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu
sangat senang. Ia lalu memetik semua
buah apel yang ada di pohon dan pergi
dengan penuh suka cita. Namun, setelah
itu anak lelaki tak pernah datang
lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang
lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang. "Ayo bermain-main
denganku lagi," kata pohon apel. "Aku
tak punya waktu," jawab anak lelaki
itu. "Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah
untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak
memiliki rumah. Tapi kau boleh
menebang semua dahan rantingku untuk
membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang
semua dahan dan ranting pohon apel itu
dan pergi dengan gembira. Pohon apel
itu juga merasa bahagia melihat anak
lelaki itu senang, tapi anak lelaki
itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki
itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo
bermain-main lagi deganku," kata pohon
apel. "Aku sedih," kata anak lelaki
itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku
sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf
aku tak punya kapal, tapi kau boleh
memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal
yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah." Kemudian, anak
lelaki itu memotong batang pohon apel
itu dan membuat kapal yang
diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar
dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi
setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf
anakku," kata pohon apel itu. "Aku
sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak
memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku
juga tak memiliki batang dan dahan
yang bisa kau panjat," kata pohon
apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua
untuk itu," jawab anak lelaki
itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-
apa lagi yang bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang
sudah tua dan sekarat ini," kata pohon
apel itu sambil menitikkan air
mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi
sekarang," kata anak lelaki. "Aku
hanya membutuhkan tempat untuk
beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu." "Oooh,
bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk
berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-
akarku dan beristirahatlah dengan
tenang." Anak lelaki itu berbaring di
pelukan akar-akar pohon. Pohon apel
itu sangat gembira dan tersenyum
sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-
main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan
mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam
kesulitan. Tak peduli apa pun, orang
tua kita akan selalu ada di sana untuk
memberikan apa yang bisa mereka
berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak
lelaki itu telah bertindak sangat
kasar pada pohon itu, tetapi begitulah
cara kita memperlakukan orang tua
kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan
lebih banyak rekan. Dan,? yang
terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita
sekarang, betapa kita mencintainya;
dan berterima kasih atas seluruh hidup
yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

No comments: